BIOGRAFI
K.H.R ABDUL FATTAH
Disusun
guna memenuhi tugas
Mata
Kuliah: Sejarah Peradaban Islam

Oleh
Asfiana
Latif
Yogi
Lina
Sofiya
Lutfi
Khoirunnisa
Zida
Wafirotul Baroroh
PROGRAM
STUDI MUAMALAH
JURUSAN
SYARIAH
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM AN-NAWAWI PURWOREJO
2016
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR
............................................................................................2
BAB
I PENDAHULUAN
......................................................................................3
1. Pertama
kali mengembangakan Agama Islam ......................................3
2. Keluarga
K.R.Asmorosupi disebar .......................................................3
BAB
II SEKILAS LEGENDA dan BIOGRAFI .....................................................5
1. Dusun
Sigedong Baturoso sebagai tempat tinggal ................................5
2. Keturunan
K.H.R. Abdul Fattah ...........................................................6
BAB
III RIWAYAT HIDUP K.H.R. ABDUL FATTAH ......................................8
1. Sifat
karomah dan senang tirakat ..........................................................8
2. Bermukim
dan mengembangkan ajaran Islam di Dusun Kramat .........9
3. Khataman
pengajian pertama kali di Dusun Krama ...........................10
4. Pernikahan
pertama K.H.R. Abdul Fattah ..........................................11
5. K.H.R.
Abdul Fattah pindah ke Dusun Sigedong ...............................11
6. K.H.R.
Abdul Fattah mendirikan masjid ............................................12
7. Nama
seluruh putra putri K.H.R. Abdul Fattah ..................................13
BAB
IV SILSILAH K.H.R. ABDUL FATTAH ...................................................15
1. Silsilah
dari Sunan Kalijaga ................................................................15
2. Silsilah
dari Prabu Brawijaya V Majapahit .........................................15
3. Silsilah
dari Siwunun Prabu Mangkurat Jawi .....................................15
BAB
V PERJALANAN R. SUTOMARTO II (K.R. ASMOROSUPI) ................16
1. Perang
melawan penjajah Belanda ......................................................16
BABA
VI BERPISAHNYA PENGERAN DIPONEGORO dengan K.R.
ASMOROSUPI ....................................................................................18
BAB
VII PENUTUP .............................................................................................21
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillahi
Rabbil’alamin kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan nikmat dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyusun buku BIOGRAFI
K.H.R. ABDUL FATTAH.
Pembukuan biografi
ini kami maksudkan untuk mendokumentasikan nilai-nilai luhur sejarah perjuangan
beliau K.H.R. ABDUL FATTAH terutama dalam bidang menegakkan serta mengembangkan
ajaran agama Islam.
Disamping itu
sebagai penyambung sanak keluarga keturunan beliau yang telah ribuan jumlahnya
bahkan sampai manca negara.
Kami menyadari
bahwa dalam penyusunan biografi ini kami banyak kekurangan sehingga kami
memohon kritik dan sarannya sebagai perbaikan pembukuan kami yang kedepannya.
Kemudian untuk
bantuan dari para narasumber kami mengucapkan banyak terima kasih sehingga kami
bisa menyelesaikan buku ini.
BAB I PENDAHULUAN
K.H.R. Abdul
Fattah adalah seorang ulama besar di daerah Kabupaten Wonosobo yang gigih dalam
berjuang melawan penjajah Belanda bersama dengan ayahandanya, yaitu K.H.R.
Marhamah bin R. Sutomarto II alias K.R. Asmorosupi.
K.R. Asmorosupi
yang diikuti seorang putra, yaitu K.H.R. Marhamah beserta istri dan keempat
putranya, yaitu:
1) R.
Syukur Sholeh
2) R.H.
Manshur
3) K.H.
R. Abdul Fattah
4) R.
Mohamad Ansor
Meninggalkan
keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bersama-sama dengan Pengeran Diponegoro
kurang lebih pada tahun 1829 M kemudian bermukim di Desa Pasekan Kecamatan
Muntilan Kabupaten Magelang.
1. Pertama
Kali Mengembangkan Agama Islam
Rombongan K.R. Asmorosupi yang diikuti seorang putra
dan para cucu, setelah meninggalkan Desa Pasekan kemudian menuju Dusun Kramat
Desa Wuwuharjo Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang.
Dusun Kramat ini konon kabarnya terkenal hutan wingit
(angker) beliau dapat bermukim dengan istiqomah dan mulai dapat mengembangkan
syari’at agama Islam bersama dengan seorang ulama, yaitu K. Abdul Ghoni yang
pertama kali di daerah perbatasan antara Kabupaten Magelang dan Kabupaten
Wonosobo.
2. Keluaraga
K.R. Asmorosupi Disebar
Karena
besarnya pengaruh dalam mengajarkan syari’at agama Islam, maka akhirnya
meluaslah para santri berdatangan dari barbagai penjuru daerah untu menimba
ilmu di Dusun Kramat ini. Kemudian disebarlah keluarga K.R. Asmorosupi ini
sebagai berikut:
a. K.R.
Asmorosupi diikuti oleh seorang putra, yaitu K.H.R. Marhamah dan seorang cucu
ialah R.Syukur Sholeh mendirikan masjid dan bermukim di Desa Bendosari
Kecamatan Sepuran Kabupaten Wonosobo untuk melangsungkan misi dakwahnya hingga
wafat dan makamnya di sebelah Masjid Desa Bendosari tersebut, dan makamnya
tidak dicungkup karena memang beliau tidak berkehendak makamnya untuk
dicungkup.
b. K.H.R.
Manshur mendirikan masjid besar Kauman Wonosobo, bermukim hingga wafat di
Wonosobo dimakamkan di pemakaman Dusun Ketinggring Desa Kalianget Kecamatan
Wonosobo Kabupaten Wonosobo.
c. K.H.R.
Abdul Fattah mendirikan masjid dan pondok pesantren bersama istri dan para
putra-putrinya bermukim di Dusun Sigedong Desa Tegalgot Kecamatan Kepil
Kabupaten Wonosobo hingga wafatnya dan dimakamkan di dekat pengimaman masjid
Sigedong tersebut.
d. R.
Mohamad Ansor bermukim di Desa Leksono hingga wafat dan dimakamkan di pemakaman
Kepatihan Desa Leksono Kecamatan Leksono Kabupaten Wonosobo.
BAB II SEKILAS LEGENDA dan BIOGRAFI
Dusun Sigedong
Baturono, termasuk Desa Tegalgot Kecamatan Kepil Kabupaten Wonosobo. Dulunya
adalah bukit hutan belantara konon tempat kerajaan jin, setan, lelembut lain
sebagainya makhluk gaib. Dan barang siapa yang berani menjamah memasuki hutan
tersebut akan hilang musnah tanpa bekas dan tak diketahui arah rimbanya.
Sehingga tidak seorang pun yang berani mendekat apalagi memasukinya.
Namun atas
kekuasaan Allah SWT, K.H.R. Abdul Fattah adalah seorang keturunan R. Mas Said
(Sunan Kalijaga) dan Prabu Brawijaya V grad ke 13, ia adalah seorang ulama
besar, tokoh pejuang dalam melawan penjajah Belanda pada zamannya.
Berkat karomah dan
ilmunya yang cukup tinggi serta keampuhan doa-doanya, beliau dapat mengusir
mahkluk-mahkluk gaib yang ada di sana. Kemudian daerah tersebut dijadikan
daerah bermukim beliau bersama istri-istri dan putra-putrinya, dan ditempati
oleh keturunannya hingga sekarang.
1. Dusun
Sigedong Baturono sebagai Tempat Tinggal
Dari bubak sembung senggani K.H.R. Abdul Fattah dari
bukit hutan belantara menjadi sebuah dusun yang di beri nama “Sigedong
Baturono” hal ini mengandung arti bahwa Sigedong adalah sebuah bekas kerajaan
jin, setan, dan Baturono adalah ada sebagian pasang
Dusun ini termasuk Desa Tegalgot Kecamatan Kepil
Kabupaten Wonosobo, sebagai tonggak di sinilah beliau K.H.R. Abdul Fattah mulai
mengembangkan ajaran syari’at agama Islam dengan sarana mendirikan pondok
pesantren dan sebuah masjid sebagai tempat ibadah dan shalat berjamaah sampai
pada akhir hayatnya, wafat pada tahun 1911 M.
Berkat ktekunan, ketelatenan, dan kesabaran beliau
dalam membina, mendidik, mengajar para
santrinya akhirnya lahirlah para mubaligh yang menyebar luas dan mengembangkan
ajaran syari’at agama Islam.
2. Keturunan
K.H.R. Abdul Fattah
Almarhum K.H.R. Abdul Fattah beristi empat orang dan
menurunkan dua puluh dua orang anak. Namun sekarang keturunannya sudah tak
terhitung jumlahnya dan telah menyebar ke seluruh penjuru tanah air, bahkan ada
yang berada di manca negara.
Adapun cucu buyut yang tertua dari segi nasab maupun
umur yang berada di Wonosobo, antara lain sebagai berikut:
a. K.H.
Muntaha Al Hafidz bin Nyi Hajjah R.A. Asy’ari binti K.H.R. Abudarda’ (putra ke
empat K.H.R. Abdul Fattah) beliau sebagai ulama besar penerus pengembang
syari’at agama Islam pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Al Asy’ariah
Desa Kalibeber dan juga sebagai rektor IIQ (Institut Ilmu Al Quran) Jawa Tengah
di Kalibeber Wonosobo.
b. K.H.R.
Ghozali Shihab pengasuh pondok pesantren kanak-kanak “Miftahul Huda” Dusun
Siwatu Desa Bumiroso Kecamatan Watumalang Kabupaten Wonosobo.
c. K.Moch.
Muhtar Sanusi bin K.R. Moh Sanusi bin K.H.R. Mustofa (putra ketiga K.H.R. Abdul
Fattah) mantan kepala Kantor Urusan Agama Wonosobo, sebagai mubaligh Kabupaten
Wonosobo.
d. Mohanad
Misbachulmunir bin K.H.R. Mukmin bin K.H.R. Mustofa (putra ketiga K.H.R. Abdul
Fattah) mantan kepala Departemen Agama Kabupaten Wonosobo.
e. Moh.
Mustofa bin K.H.R. Moh Sholeh bin K.H.R. Mustofa (putra ketiga K.H.R. Abdul
Fattah) mantan kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Kepil Kabupaten Wonosobo.
f. K.
Moh Anwar bin K. Moch. Bun Yamin bin K. Moch Fadlil (putra kelima K.H.R. Abdul
Fattah) mantan kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Wadaslintang Kabupaten Wonososbo.
Disamping
itu juga banyak hafidz dan hafidzah dari
keturunan beliau K.H.R. Abdul Fattah. Karena banyaknya keturunan yang menjadi
mubaligh dan penghafal Al Quran di dalam wilayah Wonosobo, maka penghimpun
tidak mencantumkan semuanya dalam naskah.
BAB III RIWAYAT HIDUP K.H.R. ABDUL
FATTAH
K.H.R. Abdul
Fattah nama kecilnya adalah R. Syamsul Ma’arif beliau dilahirkan di kraton
Ngayogyakarta kurang lebih pada tahun 1812 M. Beliau diasuh serta dididik dan
dibesarkan dalam kraton, beliau diajarkan ilmu-ilmu agama Islam oleh
ayahandanya K.H.R. Marhamah sejak kanak-kanak hingga dewasa.
Beliau memiliki
sinar mata yang tajam serta cerdas, semua ilmu yang dipelajarinya langsung
dapat dkuasai. Kemudian meneruskan belajar ilmu agama di Makatul Mukaromah
sekaligus menunaikan ibaah haji.
Atas semua
keberhasilan yang dicapainya itu maka dalam usia yang relatif muda itu sudah
tampak kepribadiannya sebagai seorang yang alim, agung dan berwibawa serta
penuh kharisma.
1. Sifat
Karomah dan Senang Tirakat
Sejak kecil K.H.R. Abdul Fattah senang tirakat
riyadloh, tekun beribadah di samping melakukan ibadah wajib, melaksanakan
shalatulai, shalat hajat tahajud, beliau selalu taqarubilallah, mengurangi
tidur malam, waktu siang digunakan beribadah puasa sunah. Bahkan setelah
bermukim di Dusun Sigedong bersama istri-istrinya dan para putra-putrinya serta
para santri pondok pesantren, beliau tidak pernah makan sampai kenyang. Kalau
berpuasa, setiap kali berbuka puasa setelah dihidangkannya nasi yang digelar di
atas tampi (dalam bahasa jawa tampah) lalu diiris menyilang dengan pisau, yang
melekat pada pisau itu yang beliau makan dan meminum seteguk air putih. Adapun
sisa nasi yang masih utuh di dalam tampi itu diberikan kepada santri-santrinya
sebagai barokah.
Hal ini barlangsung selama satu tahun. Kemudian pada
tahun berikutnya cara berpuasanya berbeda lagi. Antara lain menanak nasi beras
satu sendok dicampur pasir untuk berbuka puasa, caranya setelah masak, nasi itu diambil dengan satu jari telunjuk,
kalau sekali makan tergigit pasir, spontan berhenti dan tidak dilanjutkan makan
lagi, demikian terus menerus beliau jalankan yang bagi kita orang awam tidak
mampu menjalankannya.
Keistimewaan lainnya, beliau R. Syamsul Ma’arif ketika
masih dalam kandungan ibunya sudah memiliki karomah. Suatu hari ketika ibunya
sedang nginteri (bahasa jawa) beras untk ditanak beliau merasa pusing
berputar-putar. Oleh karena itu ibu yang sedang hamil jangan sekali-laki
nginteri beras dalam tampah, karena kasihan janin yang masih ada dalam
kandungan sang ibu.
2. Bermukim
dan Mengembangkan Ajaram Agama Islam Di Dusun Kramat
Ketika K.R. Asmorosupi bersama istri, putra dan
cucunya bermukim di Dusun Kramat yang dahulunya terkenal hutan wingit (angker).
Dusun tersebut hingga kini masih sunyi dan tak lepas dari mahkluk-mahkluk gaib
yang masih mengganggu manusia. Karena pada saat itu ditempati oleh para auliya’
seperti K.R. Asmorosupi, K.H.R. Marhamah, K. Abdul Ghoni, dll. Maka dusun itu
dinamakan Dusun Kramat atau bahasa arabnya Karomah yang berarti dimuliakan.
Dusun ini termasuk Desa Wuwuharjo Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang. Dusun
Kramat terletak ditepi sungai Kodil, pebatasan antara Kabupaten Magelang dan
Kabupaten Wonosobo. Dari dusun inilah pertama untuk mengajarkan ajaran syari;at
agama Islam di perbatasan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Wonosobo. Dan konon
pernah untuk mengislamkan seorang Budha yang sakti yaitu ayahnya K. Abdul Ghoni
bernama Kartawasesa atau juga disebut Mbah Lerik, setengah riwayatnya usianya
mencapai 175 tahun, sejak kecil tidak pernah potong rambut atau kuku. Oleh
karena itu rambutnya sampai menjadi tebal panjang dan gembel digambarkan
seperti tudung kowangan. Menurut cerita kalau hujan rambut itu digunakan untuk
tudung dan kalau tidur digunakan untuk kasur. Disamping itu juga memiliki kuku
yang panjangnya kurang lebih mencapai dua meter sampai melintir-melintir, kuku
tersebut sering digunakan untuk mengambil barang dari kejauhan. Konon kuku dan
rambut Mbah Lurik sebelum masuk Islam tidak ada yang bisa memotongnya, meskipun
menggunakan alat apapun. Selain itu matanya memiliki keanehan tidak seperti
kebiasaan orang biasanya, ia bergaris lurik-lurik sehingga orang-orang
memanggilnya Mbah Lerik.
3. Khataman
Pengajian Pertama Kali di Dusun Kramat
Pada bulan rabiul awwal K. Abdul Ghoni bersama K.H.R.
Marhamah ayah dari K.H.R. Abdul Fattah, mengadakan khataman pengajian bagi para
santri yang mondok di Dusun Kramat sebanyak empat puluh santri, khataman ini
baru bisa menyalesaikan bacaan dua kalimah syahadah, surat al-fatihah, surat
al-ikhlas, surat al-a’laq dan surat an-nas.
Mengadakan khataman secara besar-besaran, semua ulama
yang ada di Jawa Tengah dan para Biksu Budha serta pendeta diundang untuk
menyaksikan acara-acara, antara lain: peringatan maulud Nabi Muhammad SAW,
peringatan khataman para santri yang berjumlah 40 santri, pemotongan rambut dan
kuku Mbah Lerik, setelah masuk Islam.
Alkisah, ketika Si Mbah Lerik telah masuk Islam dengan
membaca Bismillah dan Dua Kalimah Syahadah, pembacaan doa dan selamatan, rambut
serta kuku baru dapat dipotong oleh putranya sendiri K. Abdul Ghoni, namun
alangkah terkejutnya bersamaan dengan jatuhnya potongan rambut dan kuku
menimbulkan suara gemuruh bagaikan terjadi gempa, sehingga orang-orang panik
mencari perlindungan. Kemudian potongan rambut dan kuku diangkat oleh dua orang
santri, ternyata tidak mampu, baru setelah empat puluh santri bersama-sama
mengangkat, baru rambut dapat dipikul berkeliling mengitari Masjid Dusun Kramat
ditandai batu dan pohon ubi.
4. Pernikahan
Pertama K.H.R. Abdul Fattah
Di Dusun Kramat K.H.R. Abdul Fattah melangsungkan
pernikahan dengan seorang putri bernama Siti ‘Aisyah binti K. Abdul Ghoni bin
Lerik Kartawasesa dengan disaksikan oleh para auliya’. Adapun silsilah dari ibu
Siti ‘Aisyah adalah putri Khofsah binti K. Jogonolo Sabuk Alu dari Desa Kaliabu
Kecamatan Salaman Kabupaen Magelang.
Alkisah K. Jogonolo Sabuk Alu termasuk orang sakti,
yang pada waktu itu turut berjuang sebagai pengikut setia Pengeran Diponegoro.
Pada saat Mbah Nolo disuruh untuk berjaga melawan Belanda, karena tergesah akan
berangkat maka mengambil antan (dalam bahasa jawa alu) sebagai ikat pinggang
dang lumpang sebagai topinya. Sehingga sampai sekarang terkenal dengan nama K.
Jogonolo Sabuk Alu.
5. K.H.R.
Abdul Fattah pindah ke Dusun Sigedong
Setelah bermukim beberapa tahun K.H.R. Abdul Fattah
bersama keluarga di Dusun Kramat, penguasa pemerintah kabupaten mengumumkan,
siapa saja yang dapat mengusir mahkluk-makhluk yang sangat mengganggu
ketentraman manusia di bukit Sigedong, maka tanah tersebut akan diberikan
sebagai tanah Keputihan, artinya bebas pembayaran pajak.
Mengingat bahwa keadaan hutan tersebut sangat gawat,
lagi wingit dan tidak sembarang orang berani mendekat lebih-lebih memasukinya
dikhawatirkan hilang tanpa jejak, maka oleh Glondong (kepala desa Tegalgot)
bernama R. Surowikromo kemudian menunjuk K.H.R. Abdul Fattah adalah
satu-satunya yang berani dan dapat mengusir serta membebaskan kerajaan jin penghuni tanah tersebut, kemudian setelah
tanah aman dijadikan pemukiman hingga sekarang, terutama cucu, buyut dan
seterusnya keturunan K.H.R. Abdul Fatta. Kemudian oleh Glondong R. Surowikromo
dijadikan besan.
6. K.H.R.
Abdul Fattah Mendirikan Pondok Pesantren
Dusun Sigedong Baturono setelah dijadikan pemukiman
oleh K.H.R. Abdul Fattah bersama keluarganya, kemudian beliau sarana tempat
ibadah berupa masjid dan pondok pesantren pada tahun 1831 M. Santrinya
berduyun-duyun berdatangab dari berbagai
penjuru daerah untuk menimba ilmu, mengaji di pondok pesantren tersebut. Pondok
pesantren inilah yang merupakan pondok pesantren pertama di Kabupaten Wonosobo.
Para santri mengaji untuk memperdalam ilmu agamanya
sampai bertahun-tahun hingga menumbuhkan banyak ulama-ulama dan mubaligh yang
menyebar ke berbagai penjuru daerah khususnya Wonosobo. Bahkan ada pula para
santri yang ‘alim yang diambil menantu oleh K.H.R. Abdul Fattah. Adapun para
putra-putri yang telah dewasa disebar untuk mengembangkan ajaran syari’at agama
Islam, diantaranya adalah:
a. K.H.R.
Musthofa di Wonosobo
b. K.R.
Moch. Fadlil di Wadaslintang
c. K.R.
Djazuli di Kaliwiro
d. K.R.
Jusran di Ngasian Loano
e. Ny.
R.A. Moch. Mufid di Gemawang Sapuran
f. Ny.
R.A. Ali Ibrohim di Kragan Margoyoso
g. Ny.
R.A. Abdul Kadir di Kuwaraan Kajoran
h. Ny.
R.A. Ngalwi di Setuhu Kajoran
i.
Ny. R.A. Abdul
Manan di Kedu Temanggung
j.
Ny. R.A. Burhan di
Wonosobo
k. Ny.
R.A. Kustontijah di Kalisuren Kertek
l.
Ny. R.A.
Badaruddin di Kadirejo Solo
m. Ny.
R.A. Abdul Khanan di Ngalian Wadaslintang
7. Nama
Seluruh Para Putra-Putri K.H.R. Abdul Fattah
K.H.R. Abdul Fattah memiliki empat orang istri dan
menurunkan dua puluh dua orang putra-putri. Adapun nama-nama urutannya adalah
sebagai berikut:
Pernikahan yang pertama K.H.R. Abdul Fattah dengan Ny.
Siti ‘Aisyah keturunan dari simbah Lerik Kertowaseso dan keturunan dari Mbah
Jogonolo Sabuk Alu dikaruniai sepuluh orang putra-putri, yaitu sebagai berikut:
a. H.
R. Mohamad Amin di Sigedong
b. Ny.
R.A. Mohamad Mofid di Gemawang
c. K.H.R.
Musthofa di Wonosobo
d. K.H.R.
Abudarda’ di Sigedong
e. K.R..
Mohamad Fadlil di Wadaslintang
f. Ny.
R.A. Ali Ibrohim di Kragen Salaman
g. Ny.
R.A. Rofingi di Sigedong
h. Ny.
R.A. Abdul Kadir di Kuwaraan Kajoran
i.
K.R. Djazul al
Jabrohim di Kaliwiro
j.
Ny. R.A. Ngalwi di
Setuhu Kajoran
Istri
pertamanya ini sering disebut Simbah Kulon, karena letak rumahnya di sebelah
barat jalan, sebelah utara masjid Sigedong.
Pernikahan yang kedua K.H..R. Abdul Fattah dari desa
Pasekan di karuniai delapan orang putra-putri, yaitu sebagai berikut:
a. K.H.
Ngusman di Siblembeng
b. K.H.
Irsyad di Sigedong
c. Ny.
R.A. Abdul Manan di Kedu Temanggung
d. K.R.
Mohamad Said di Sigedong
e. Ny.
R.A. Burhan di Wonosobo
f. Ny.
R.A. Kostantiyah di Kalisuren Kertek
g. Ny.
R.A. Badaruddin di Kadirejo Solo
h. K.R.
Taftazan di Sigedong
Istri
kedua ini sering disebut mbah wetan karena letak rumahnya di sebelah timur
jalan, sebelah timur masjid Sigedong.
Pernikahan yang ketiga dari Desa Tegalgot dikaruniai
seorang putra, yaitu K.R. Mohamad Tohir di Sigedong.
Pernikahan yang keempat dari Desa Kaliwuluh
dikaruniai tiga orang putra-putri, yaitu
sebagai berikut:
a. Ny.
R.A. Abdul Chanan di Ngalian Wadaslintang
b. K.R.
Tamhid di Sigedong
c. K.R.
Yusran di Ngasinan Loano
Adapun keturunan K.H.R. Abdul Fattah hingga sekarang
telah mencapai ribuan orang dan menyebar keseluruh penjuru tanah air, bahkan
manca negara.
BAB IV SILSILAH K.H.R. ABDUL FATTAH
Panji leluhur
K.H.R. Abdul Fattah terdiri dari keturunan R. Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya V
Majapahit, dan Sinuhun Prabu Mangkurat Jawi (Mangkurat Mas) di Kartosuro.
1. Silsilah
dari R. Sunan Kalijaga
R.
Sunan Kalijaga berputra K.T. Selamanik, berputra K.A. Surawedana, berputra K.T.
Jaganegara, berputra R.A. Endangkoro, berputra R.A. Kenangawati, berputra R.A.
Kenangawulan yang kemudian diperistri R. Sutomarto I, dari Prabu Brawijaya V di
Majapahit, menurunkan R. Sutomarto II (Asmorosupi), berputra K.H.R. Marhamah,
berputra K.H.R. Abdul Fattah (putra ketiga dari K.H.R. Marhamah).
2. Silsilah
dari Prabu Brawijaya V Majapahit
Prabu
Brawijaya V berputra R. Bondan Gejawan, berputra K.A. Getas Pendawa, berputra
K.A. Selo, berputra K.A. Nis (Hanis), berputra K.A. Karontangan, berputra K.A.
Surogati, berputra R.T. Martoyudo berputra R.Ng. Sutomarto, berputra R.Ng.
Martodipo, berputra R. Sutomarto I, kemudian beristri R.A. Kenangawulan
keturunan dari R. Sunan Kalijaga, menurunkan R.Sutomarto II (Asmorosupi),
kemudian beristri R.A. Sri Kuning, keturunan dari Prabu Mangkurat Jawi
Kartosuro, berputra K.H.R. Marhamah, yang berputra K.H.R. Abdul Fattah.
3. Silsilah
dari Sinuwun Prabu Mangkurat Jawi
Prabu
Mangkurat Jawi di Kartosuro berputra R.A. Mangkuprojo, berputra R.A. Branti,
Berputra R.A. Wiroduto, berputra R.A. Sri Kuning, berputra K.H.R. Marhamah,
berputra K.H.R. Abdul Fattah.
BAB V PERJALANAN R. SUTOMARTO II
(K.R. ASMOROSUPI) HIJRAH
DARI KRATON
NGAYOGYAKARTA
K.R. Sutomarto
alias K.R. Asmorosupi adalah pewaris Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat,
keturunan dari Prabu Brawijaya V Majapahit Kertabumi tahun 1468-1478 M grad ke
11, yang bermukim di dalam kraton bersama para warga, keluarga dan para
punggawa yang hidup serba kecukupan aman damai tak kurang suatu apapun.
Beliau adalah
seorang ulama besar lagi alim dan memiliki sifat patriot sebagai pejuang yang
cukup tinggi, maka sifat-sifat yang demikian itu diwariskan kepada putra dan
keturunannya yang kemudian menjadi pejuang dalam segala bidang pada masyarakat,
terutama bidang spiritual keagamaan.
1. Perang
Melawan Penjajah Belanda
Ketika Pangeran Diponegoro berperang melawan penjajah
Belanda bersama-sama K.H.R. Asmorosupi yang diikuti pula oleh seorang putra,
yaitu K.H.R. Marhamah beserta istri dan empat orang putranya bersama-sama
meninggalkan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kafilah K.R. Asmorosupi menuju
Desa Pasekan Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang.
Di Dusun Pasekan ini K.R. Asmorosupi bersama
keluarganya singgah bermukim untuk sementara waktu, yang kemudian melanjutkan
perjalanan melewati Borobudur hingga sampai di Desa Menoreh. Di Desa Menoreh
ini Pangeran Diponegoro dan para prajuritnya serta dengan Kafilah K.R.
Asmorosupi mengadakan strategi untuk bergerilya melawan penjajah Belanda,
hingga bala tentara Belanda mengalami banyak korban. Di tengah berkecamuknya
peperangan Pangeran Diponegoro bersama-sama pengikutnya masih menyempatkan
waktunya untuk membangun sarana tempat ibadah yaitu mendirikan sebuah langgar
sebagai tempat mujahadah, langgar tersebut dinamakan Langgar Agung PNP
Diponegoro, terletak di Desa Menoreh Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang.
Kurang lebih 100 meter dari tepi jalan raya menuju Borobudur.
BAB VI BERPISAHNYA PANGERAN
DIPONEGORO DENGAN KAFILAH
K.R. ASMOROSUPI
Dengan semangat
juangnya para pejuang perang gerilya melawan penjajah Belanda, kemudian
berpisahlah Pangeran Diponegoro dengan Kafilah K.R. Asmorosupi dan keluarga di
Desa Menoreh. Selanjutnya K.R. Asmorosupi melanjutkan perjalanannya melalui
Desa Salaman terus ke selatan menuju Desa Kaliabu, kemudian menuju ke arah
barat berjalan kaki melalui perbukitan hutan rimba menuju Dusun Kramat, yaitu
daerah perbatasan antara Kabupaten Magelang dan Kabupaten Wonosobo, waktu itu
kurang lebih adalah tahun 1830.
R. Syamsul Ma’arif
(K.H.R. Abdul Fattah) adalah seorang pemuda yang sangat gigih berjuang perang
secara gerilya melawan penjajah Belanda, sehingga terpisahlah beliau dengan
Kafilah K.R. Asmorosupi. Hal ini tercium oleh Belanda sehingga beliau dikejar
Belanda dan masuk hutan. Di dalam hutan beliau merasa lelah, kemudian
beristirahat dan berlindung, kebetulan ada sebuah pohon besar yang berlubang,
maka beliau masuk ke dalam lubang pohon. Dengan kekuasaan dari Allah SWT lubang
pohon itu menutup layaknya rumah tanpa pintu sehingga beliau dapat istiqomah
beribadah kepada Allah SWT. Bala tentara Belanda yang merasa kehilangan jejak
padahal mereka mellewati pohon tempat K.H.R. Abdul Fattah bersembunyi. Akhirnya
bala tentara Belanda pulang tanpa membawa hasil apapun.
Setelah perang
gerilya reda dan Belanda mengadakan perjanjian damai dengan cara tipu muslihatnya
di daerah Magelang kepada para tokoh pejuang kemerdekaan. Maka keluarlah beliau
dari dalam pohon. Kemudian berjalan menelusuri bukit hutan yang akhirnya
bertemu dengan keluarga beliau K.R. Asmorosupi dan keluarga Mbah Lerik
Kertowaseso di Dusun Kramat. Di Dusun Kramat inilah tempat mengadakan
musyawarah dan tempat mengadakan strategi perjuangan dan pengembangan agama
Islam.
K.R.Asmorosupi
didampingi K.H.R. Marhamah beserta keluarga, semuanya dapat bermukim sampai
beberapa tahun lamanya di Dusun Kramat, dan ketika itu pula telah bermukimnya
K. Abdul Ghoni, beliau termasuk ulama besar yang telah membebaskn pekarangan
dari penghuni mahkluk-mahkluk gaib serta mendirikan masjid di Dusun Kramat. K.
Abdul Ghoni pertama kali mengajarkan syari’at agama Islam yang diikuti oleh
para santri dari berbagai penjuru daerah, hingga jumlahnya mencapai empat puluh
santri. K. Abdul Ghoni meninggal dan dimakamkan di pemakaman Dusun Kramat Desa
Wuwuharjo. Selanjutnya dari Dusun Kramat ini keluarga K.R. Asmorosupi disebar,
berpencar meneruskan perjalanan menuju pemukiman yang terakhir adalah sebagai
berikut:
a. K.R.
Asmorosupi yang diikuti oleh seorang putra, yaitu K.H.R. Marhamah bersama istri
dan seorang putra yang bernama R. Syukur Sholeh meneruskan perjalanan ke arah
barat, melalui Desa Sirandu. Desa Kagungan, Desa Kaliwuluh, terus ke barat
melalui Desa Tegalgot, Dusun Mranggen, belok ke utara menuju Desa Surojoyo,
kemudian belok ke arah barat melalui Desa Talunombo, Dusun Bambusari dan
akhirnya bermukim hingga wafat di Desa
Bendosari Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo. Adapun makamnya di sebelah
barat masjid dan beliau tidak mau makamnya dicungkup.
b. R.H.
Manshur menuju Wonosobo, beliau mendirikan masjid besar di Kauman Wonosobo pada
tahun 1838 M, serta dimakamkan di Dusun Ketinggring Desa Kalianget Kecamatan
Wonosobo Kabupaten Wonosobo, yang setiap tanggal 8 bulan syawal diadakan khaul
serta pengajian umum bertempat di halaman masjid Al-Manshur yang dikunjungi
oleh sebagian besar pengunjung pengajian seton (pengajian hari sabtu).
c. K.H.R.
Abdul Fattah bubak hutan belantara yang terkenal sangat wingit yang terletak di sebelah utara
Desa Tegalgot, beliau bermukim bersam keluarga dan mendirikan pondok pesantren
serta masjid di Dusun Sigedong Baturono serta menyebarkan ajaran syari’at agama
Islam bersama putra-putrinya hingga wafat, beliau dimakamkan di dekat
pengimaman masjid Sigedong. Setiap tanggal 21 bulan rajab selalu diperingati
khaulnya yang diawali dengan tadarus Al
Quran bil Ghaib oleh para hafidz-hafidzah alumnus pondok pesantren Al
Asy’ariyah asuhan beliau K.H. Muntaha al Hafidz dari Kalibeber Wonosobo.
d. R.
Mohamad Ansor berjalan menuju Desa Leksono, menyebar luaskan ajaran syari’at
agama Islam hingga wafat di Desa Leksono Kecamatan Leksono Kabupaten Wonosobo.
Jalan yang pernah dilalui oleh Kafilah K.R. Asmorosupi
kemudian dijadikan jalan provinsi sampai di Dusun Mranggen terus ke barat
melalui Dusun Sicantik dan menuju ke Dusun Silento, yaitu jalan raya antara
Wonosobo-Purworejo.
BAB VII PENUTUP
Demikian biografi
K.H.R. Abdul Fattah sebagai seorang mubaligh serta ulama besar yang ikut serta
memperjuangkan kemerdekaan melawan penjajah Belanda di samping perjuangan
menegakkan syari’at agama Islam memberantas kebathilan.
Hendaknya sebagai
generasi sekarang dan mendatang dapat mengambil hikmahnya dari jejak langkah
yang baik dari pada suritauladan beliau K.H.R. Abdul Fattah.
Semoga naskah ini
dapat berguna bagi para pembaca dan bermanfaat. Harapan dari kami penghimpun
biografi ini dalam menyajikan sekelumit naskah ini, semoga generasi yang akan
datang dan merupakan generasi penerus
dapat mengenal kisah dan sejarah dari leluhurnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar